Menurut salah satu pihak LinkedIn Hani Durzy, perusahaan saat ini menyadari akan proses blok layanan mereka di cina, dan saat ini perusahaan sedang mencoba untuk memproses penyelidikan lebih lanjut akan hal itu.
Proses dibloknya layanan LinkedIn berhubungan dengan revolusi yang terjadi di Cina yaitu sebuah model revolusi yang mirip seperti revolusi yang terjadi di Tunisia dan Mesir.
Untuk beberapa waktu ini akses ke Twitter dan Facebook telah diblokir di seluruh Cina, pengguna twitter yang berada di Cina terpaksa harus menggunakan Virtual Private Networks (VPN) untuk mengakses twitter.
Proses penggunaan LinkedIn yang sepenuhnya terintegrasi dengan Twitter sejauh ini adalah cara termudah untuk mengakses Twitter di Cina. Pesan dapat dengan mudah dibaca dan diposting melalui Twitter via LinkedIn.
"Jika permasalahan yang dihadapi LinkedIn ini bersifat permanen di Cina, maka dimungkinkan hal itu akan melukai bisnis internet yang dijalankan LinkedIn pada pasar Internet terbesar di dunia yaitu sekitar 450 juta pengguna dan terus bertumbuh hingga saat ini".
"Hal itu akan mengakibatkan hal negatif pada pertumbuhan perusahaan dan tentunya pada keuntungan yang akan didapatkan" ucap Jay Ritter selaku Profesor keuangan di Universitas Florida.